Sejarah Sup

Tuesday, January 26, 2016

Merebus adalah teknik memasak yang lebih menguntungkan dibandingkan menggoreng, membakar, atau memanggang.
Hal ini disebabkan energi panas dapat lebih meresap ke bahan makanan sehingga dapat melepas racun atau zat yang kurang menguntungkan lainnya agar makanan aman dikonsumsi.
Dengan teknik ini, manusia purba menyadari bahwa beragam hewan dan tanaman lebih banyak bisa dikonsumsi.
Tulang hewan, misalnya, belum tentu bisa dimakan jika hanya dibakar.
Merebus makanan ternyata juga dapat menciptakan sensasi rasa baru.
Butiran sereal, misalnya, jika direbus akan mengeluarkan butiran kanji sehingga menciptakan efek mengentalkan.
Memanaskan beberapa jenis makanan sekaligus juga akan menyebabkan masing-masing bahan kehilangan kandungannya, dan pada saat yang sama sarinya akan bercampur sehingga menciptakan rasa baru yang unik.
Berdasarkan sebuah data kuno, orang primitif telah mengonsumsi sup dan sejenis bubur.
Pada zaman Neolitikum, sup telah dikonsumsi di daerah Mediterania.
Setelah Kekaisaran Romawi runtuh, sup bertahan di Kekaisaran Bizantium yang berpusat di Konstantinopel.
Berkat runtuhnya Kekaisaran Ottoman di Turki pada 1454, tradisi menyantap sup di Asia Tengah ditularkan kepada masyarakat Eropa.
Tak seperti di Eropa Barat, orang Turki tidak membatasi mengonsumsi sup pada momen khusus atau saat menyantap hidangan tertentu saja.
Air rebusan kemudian berkembang menjadi air kaldu, berhubung orang pada zaman itu mulai terbiasa merebus daging yang disajikan di mangkuk besar dan disantap beramai-ramai dengan menghirup langsung dari mangkuk.
Sementara kelas menengah di Eropa cukup hanya menghirup air kaldu, kalangan bangsawan telah menambahkan daging atau sayuran ke dalam air kaldu.
Sebelum sendok ditemukan, isi daging dan sayuran diambil langsung dengan tangan dari mangkuk dan lama-kelamaan menggunakan pisau untuk mengambilnya. 
Baru pada abad ke-14 sendok ditemukan sebagai media untuk mengambil kuah dan ampas sup sehingga sup tidak tumpah mengotori baju, mengingat saat itu model baju Eropa berupa atasan dengan kerah renda yang besar dan mengembang kaku.
Bentuk awal sendok yang tidak nyaman dipakai–sehingga tetap mengotori baju–pun berubah dengan gagang yang lebih panjang dan ceruk sendok diperbesar yang mampu mengurangi kemungkinan sup tumpah ke baju.
Salam.